PERTANIAN BERKELANJUTAN MENERAPKAN EKONOMI SIRKULAR
Sabtu, 29 Juni 2024 - 10:59:13 WIBDibaca: 1808 kali
Indonesia Membutuhkan Revolusi Pertanian Berkelanjutan (1)
Pertanian berkelanjutan adalah pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources) untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin. Pertanian berkelanjutan, bertumpu pada tiga pilar: ekonomi, sosial, dan ekologi yang bertujuan untuk mengurangi kerusakan lingkungan, mempertahankan produktivitas pertanian, meningkatkan pendapatan petani dan meningkatkan stabilitas dan kualitas kehidupan masyarakat di pedesaan.
Upaya pertanian berkelanjutan semakin relevan diterapkan dengan menggunakan konsep ekonomi sirkular. Ekonomi sirkular adalah sistem ekonomi yang bertujuan untuk meminimalkan limbah dan memaksimalkan penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Prinsip-prinsip ekonomi sirkular dapat diterapkan dalam praktik pertanian modern untuk mencapai manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang lebih seimbang.
Guru Besar Magister Agribisnis FST UIN Jakarta, Achmad Tjahja Nugraha, menyampaikan bahwa berdasarkan literasi, pertanian saat ini cenderung menggunakan model pendekatan ekonomi linear. Pendekatan linear itu adalah menghasilkan produk dengan cara mengeksploitasi dengan tujuan menambah hasil produksi. Secara nyata produksi meningkat, tetapi masalah yang muncul semakin banyak, contohnya munculnya limbah hingga gas rumah kaca. Ini tentu bukan masalah kecil dan jika dibiarkan akan menjadi bom waktu. “Oleh karena itu kita harus mengubah sudut pandang terhadap cara kita memandang terhadap pengembangan pertanian. Pendekatan yang baik dilakukan adalah pendekatan pertumbuhan pertanian dengan model ekonomi sirkular,” demikian menurut Achmad.
Model ekonomi sirkular akan mendorong keberlanjutan dan dapat membantu sektor pertanian menghasilkan keuntungan yang betul-betul sesuai harapan publik, memperkuat rantai pasokan dan meningkatkan efisiensi input pertanian, Achmad juga menjelaskan bahwa model ekonomi sirkular memiliki tiga tujuan, yaitu 1. bisa mengurangi limbah, 2. melindungi lingkungan, dan 3. menggunakan kembali material yang tersisa sehingga dapat menjadi barang yang bernilai.
Salah satu penerapan ekonomi sirkular dalam pertanian adalah penggunaan sisa-sisa hasil pertanian sebagai input untuk kegiatan pertanian lainnya. Misalnya, jerami dan sekam padi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan kompos dan pupuk organik. Sementara itu, limbah ternak dapat diolah menjadi biogas dan pupuk kandang yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Praktik daur ulang ini tidak hanya mengurangi volume limbah, tetapi juga menciptakan efisiensi sumber daya yang lebih tinggi.
Selain itu, ekonomi sirkular juga mendorong diversifikasi tanaman dan integrasi sistem pertanian-peternakan. Dengan menerapkan polikultur dan sistem pertanian terpadu, petani dapat memanfaatkan segala komponen dalam ekosistem pertanian secara optimal. Misalnya, limbah dari tanaman dapat digunakan sebagai pakan ternak, sementara kotoran hewan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pendekatan holistik ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem pertanian terhadap guncangan eksternal.
Adopsi ekonomi sirkular dalam pertanian juga dapat mendorong inovasi teknologi yang lebih ramah lingkungan. Contohnya, pengembangan teknologi pengolahan limbah menjadi energi terbarukan, seperti biogas dan biofuel. Selain itu, teknologi precision farming (pertanian presisi) juga dapat membantu petani dalam mengoptimalkan penggunaan input pertanian, sehingga mengurangi pemborosan sumber daya. Kolaborasi antara petani, pemerintah dan peneliti dari perguruan tinggi menjadi kunci penting dalam mendorong inovasi-inovasi ini.
Pada akhirnya, penerapan ekonomi sirkular dalam pertanian dapat memberikan manfaat ganda bagi keberlanjutan sistem pangan. Selain mengurangi dampak lingkungan, praktik pertanian sirkular juga dapat meningkatkan ketahanan pangan, mendukung mata pencaharian petani, dan mendorong pertumbuhan ekonomi hijau. Dengan demikian, integrasi prinsip-prinsip ekonomi sirkular dalam praktik pertanian merupakan langkah strategis dalam mewujudkan sistem pangan yang lebih berkelanjutan di masa depan (RW-AI-2024).
REFERENSI
Propaktani. 2024. Sustainable Agriculture: Pemanfaatan Eco-Enzyme. https://propaktani.com/news/sustainable-agriculture-pemanfaatan-eco-enzyme. Diakses 27 Juni 2024.