Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Nov
TANTANGAN DARI MEREBAKNYA AI GENERATIF SAAT INI
Beberapa tahun terakhir ini perkembangan teknologi digital begitu luar biasa, khususnya apa yang disebut generative artificial intelligence. Generative Artificial Intelligence (AI Generatif) telah menjadi salah satu topik paling dibicarakan dalam dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi ini mengacu pada kemampuan sistem AI untuk menghasilkan konten baru, termasuk teks, gambar, musik, dan bahkan video, berdasarkan pola dan data yang dipelajarinya. Era AI generatif membentuk kembali cara kita berinteraksi dengan informasi dan proses kreatifnya.
Generative AI adalah cabang dari kecerdasan buatan yang berfokus pada penciptaan konten baru dengan menggunakan model pembelajaran yang kompleks, seperti jaringan saraf tiruan (neural networks). Dengan kedalaman seperti ini, sistem dapat mempelajari data yang ada dan menghasilkan output yang sejalan dengan pola yang ditemukan. Contoh terkenal dari Generative AI termasuk: ChatGPT, DALL-E, CapCut Dreamina dan Mureka AI Music Generator.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan kita sehari-hari tidak dapat lagi bebas dari kecerdasan buatan atau AI. Generasi Z dan Alfa saat ini pasti selalu berhubungan dengan AI termasuk dalam kehidupan akademik, di sekolah maupun di kampus. Sehingga patut dipertanyakan saat ini, sejauh mana mereka menggunakan AI untuk kelancaran studi mereka, sebagai pelajar maupun mahasiswa. Lalu bagaimana dengan etika akademik yang berlaku selama ini masihkah relevan dengan kondisi era sekarang? Hal ini karena obyektivitas akademik harus tetap dipegang teguh, jangan sampai ada masalah di kemudian hari terkait integritas akademik.
Teknologi kecerdasan buatan generatif (AI) tidak hanya mengubah lanskap penciptaan konten digital, tetapi juga menimbulkan banyak tantangan dan kekhawatiran etika. AI generatif, yang mencakup beragam teknologi, mulai dari model pembelajaran mendalam (deep learning) hingga terobosan terbaru dalam model bahasa dan generator gambar, telah menunjukkan kemampuan yang belum pernah ada sebelumnya dalam menciptakan teks, gambar, musik, dan bahkan data sintetis yang sangat mirip dengan kreativitas dan pemahaman manusia (Al-kfairy et al, 2024). Meskipun perkembangan AI ini menawarkan peluang inovasi yang menjanjikan, potensi penyalahgunaan, bias, dan dilema etika tidak dapat diabaikan. Problem etika dalam AI semakin meningkat, terutama karena kerangka regulasi untuk mengatasi masalah ini masih belum berkembang bahkan belum ada.
Lalu apa itu etika akademik? Etika akademik adalah norma-norma atau aturan yang digunakan sebagai pedoman untuk diikuti dan dipatuhi oleh sivitas akademika, mulai dari mahasiswa, dosen, dan semua stakeholder kampus (Dosenik, 2023). Landasan etika dalam konteks akademik kurang lebih mengacu pada tiga hal. Secara empiris, ketiganya adalah norma hukum, prinsip ilmiah, dan budaya kampus. Masing-masing di antaranya bersifat saling beririsan dan melengkapi satu sama lain di dalam pembuatan sekaligus pelaksanaan suatu etika di dunia akademik. Keberagaman etika akademik tidak lepas dari aspek ketiga berupa budaya kampus, di mana setiap universitas memiliki keunikan profil berupa latar belakang dan kondisi sosialnya sendiri-sendiri (Dosenik, 2023).
Masuknya AI generatif ke dalam sistem pendidikan bagaikan pedang bermata dua, yang menghadirkan peluang sekaligus dilema etika. Kenyamanan dan kemampuan perangkat AI dapat menyebabkan ketergantungan berlebihan yang pada akhirnya dapat merugikan proses pendidikan. Telah banyak jurnal ilmiah yang membahas risiko yang terkait dengan ketergantungan ini, termasuk potensi mahasiswa untuk menggunakan AI secara tidak tepat dalam penilaian, yang berkontribusi pada ketidakjujuran akademik dan kemungkinan peningkatan plagiarisme (Al-kfairy et al, 2024).
Ketergantungan berlebihan ini juga menimbulkan ancaman berkurangnya kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah mahasiswa, karena ketersediaan solusi yang dihasilkan AI dapat menghambat keterlibatan yang lebih mendalam dengan materi pembelajaran. Untuk mengatasi risiko ini, sangat penting bagi lembaga pendidikan untuk mengembangkan pedoman dan kebijakan yang mendorong integritas akademik dan penggunaan perangkat AI yang bertanggung jawab.
Al-kfairy et al (2024) dalam artikelnya “Ethical Challenges and Solutions of Generative AI: An Interdisciplinary Perspective” menekankan pentingnya menciptakan model penilaian baru yang benar-benar mengevaluasi pemahaman dan kemampuan mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan, sehingga menumbuhkan keterampilan berpikir kritis yang esensial, walau menggunakan AI. Mengembangkan budaya etika dalam lingkungan akademis juga memerlukan pengertian tentang penggunaan perangkat AI yang bertanggung jawab.
Richardus Widodo (Agroindustri 2025)
REFERENSI
Al-kfairy, Mousa, Dheya Mustafa, Nir Kshetri, Mazen Insiew, Omar Alfandi. 2024. Ethical Challenges and Solutions of Generative AI: An Interdisciplinary Perspective. https://www.mdpi.com/2227-9709/11/3/58.
Dosenik.com. 2023. Etika Akademik: Pengertian, Landasan, dan Contohnya. https://dosenik.com/etika-akademik/.